DjoeRinjani Indosat 085647 55 2287 / PIN BB : 5AD831BF
Djoko Sulistyo CONTACT PERSON : Indosat 085647 55 2287 / PIN BB : 2252BEF7

djoe

djoe
indahnya di puncak merapi

Rabu, 29 April 2015

Kena tampol di kereta Api Ekonomi malang - solo


Sistem transportasi di Indonesia memang belumlah sebaik di negera2 maju lainya. Namun pastilah banyak celah di moda transportasi yang bisa kita manfaatkan untuk bisa sampai tujuan dengan membayar lebih murah atau bahkan gratis sekalipun. Namun hal itu hanya bisa kita lakukan pada jaman dulu, sebelum sistem transportasi kita dibenahi .


Dulu kisaran tahun 2005 untuk naik kereta kelas ekonomi ke Jakarta dari solo sangatlah murah Cuma Rp26.000,-  saja. Kebetulan saya lebih suka naik kereta kelas ekonomi. Disamping murah kita dijamin dapat tempat duduk, bahkan bisa tidur pula. Walaupun di dalam ticket tertulis “ticket tanpa tempat duduk “, namun ajaibnya kita bisa duduk dan nyender dimana aja. Asalkan ada tempat yang longgar buat duduk dan nyender. Jadi jika kita nggak kebagian kursi, nggak perlu bersedih , jalan di dalam gerbong kereta dapat difungsikan jadi tempat duduk atau bahkan tempat tiidur dengan hanya bermodalkan kertas Koran bekas.


Dalam perjalanan travelling , tak jarang kereta api menjadi moda transportasi yang paling sering digunakan. Karena disamping murah kadang – kadang bisa dapat gratis pula. Lhoh kok bisa ? waktu itu ceritanya saya travelling ke gunung semeru bareng 10 orang teman. Waktu berangkat  dari solo ke Surabaya aja cuma bayar 10ribu untuk 10 orang  naik kereta ekonomi  gayabaru malam, Pulangnya dari Surabaya ke solo kita naik kereta dari pertamina yang mengangkut minyak . Kita duduk diantara sambungan gerbong, agak beresiko memang, tapi waktu itu memang kantong lagi cekak mendadak dapat ide transportasi gratis. Ya hayuk aja.


Pengalaman gratis naik kereta bukan hanya saat travelling ke gunung semeru saja. Waktu ke Gunung arjuna malah lebih seru. Ceritanya waktu itu kita berempat bareng dari solo berniat mendaki gunung arjuna. Kita berempat berhasil sampai ke puncak . Namun ditengah perjalanan turun kita terpisah. Masing – masing terbagi  menjadi 2 kelompok. Temen yang 2 orang sudah  turun sampai ke basecamp bareng pendaki lain. Kebetulan waktu itu kaki ku sedikit cedera Karena  jatuh saat turun , jadi aku minta ke Doni  untuk break dulu. Ditengah hutan yang sepi dan gelap kita hanya berdua saja saat itu , Karena semua pendaki lain sudah turun. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Akhirnya dengan kaki yang masih cedera aku dan doni melanjutkan perjalanan turun. Persediaan air dan makanan mulai menipis, namun kami belum juga melihat tanda- tanda basecamp. Ternyata kami tersesat , dari tadi kami hanya muter- muter di kebun teh. Sudah sejam kami mencari jalan keluar tapi tetap saja ujung-ujungnya kembali ketempat semula. Akhirnya tenaga kami mulai habis, persedian makanan dan minuman pun sudah tak ada lagi. Mau nggak mau kami harus bermalam di kebun teh. Tanpa tenda dan makanan. Tanpa lampu dan penerangan.  saking lelahnya kami pun tak sempat untuk berpikir yang macam – macam. Padahal waktu mau berangkat naik, di basecamp kita diwanti- wanti tentang untuk berhati- hati saat berangkat maupun turun dari gunung Arjuno.


Karena menurut cerita banyak pendaki yang tersesat dan nggak kembali dalam jiwa dan raga. Saat itu kami hanya pasrah dengan apa yang terjadi, Karena sudah tidak ada yang bisa kami lakukan. Lebih baik beristirahat dulu sambil menunggu pagi datang. Dan Alhamdulillah, malam itu tidak terjadi apa- apa sampai pagi menjelang. Namun , ada kejadian aneh yang dirasakan Doni. Katanya pohon besar dan  tua segede gaban yang ada disebelah kami , Mendadak berjalan dan bertukar tempat dengan dengan pohon yang ada di sebelah doni. Terlepas apakah itu Cuma halusinasi atau memang benar adanya, kami tidak terlalu menggubrisnya. Yang penting tujuan utama kami adalah bisa turun ke basecamp dan pulang ke solo dengan selamat.

Dan Akhirnya pagi pun datang. Seketika kami beranjak untuk melanjutkan perjalanan turun. Di jalan kami bertemu dengan ibu- ibu pemetik teh yang pagi-pagi sekali sudah berangkat .  Ibu- ibu itu pun menunjukkan arah jalan pulang, dan ternyata mereka mendapat pesan dari petugas di basecamp kalo teman kami yang dua orang  sudah pulang ke solo.


Informasi itu ternyata benar adanya, teman kami yang dua orang  sudah pulang duluan ke solo. Padahal dompetku berada dalam carriel yang dibawa temanku. Karena kemarin kita sempat tukeran tas waktu turun. Waktu itu tahun 2001  handphone masih mahal, dan kita berempat belum ada yang punya handphone.

Penderitaan ternyata belum berakhir, jiaahh , kayak di film- film aja. Setelah dihitung, uang yang ada di dompet doni hanya sebatas buat bayar ojek ke stasiun dan sekedar makan sepincuk pecel  saja. Trus untuk pulang ke solo bagaimana caranya ?. Akhirnya kami jadi penumpang gelap di kereta yang nggak bertiket dan nggak punya uang sama sekali. Pokoknya kalo ada kereta yang tujuan kea rah barat  kami ikut naik diatasnya. Nggak peduli ketika ketahuan nggak punya tiket mau diberi sanksi hukuman apapun, atau mau diturunin dimanapun. Ternyata di dalam kereta itu, kami bertemu dengan orang-orang yang nggak beli tiket dan melakukan beberapa cara agar bisa gratis naik kereta.


Ada banyak trik yang mereka gunakan, untuk menghindari petugas saat ada pemeriksaan ticket. Mulai dari berjalan santai melewati petugas ke gerbong sebelumnya, bersembunyi diatas gerbong atau pura- pura buang air di kamar mandi. Namun cara yang paling aman adalah berjalan melewati petugas yang akan memeriksa ticket. Walaupun aman trik ini adalah yang paling sulit dilakukan, hanya orang – orang yang lihai saja yang bisa mengelabui petugas. Mereka tahu persis kapan bergerak dan pasang ekspresi muka yang datar seolah – olah tidak terjadi apa – apa. Saran saya jangan pernah bersembunyi ditoilet. Karena petugas akan menggedor – gedor pintu toilet dan akan ditungguin sampai kamu keluar. Persis seperti yang aku alami. Karena masih amatir, saat petugas datang aku panic dan masuk ke toilet. Ehh ternyata petugas sudah mengendus trik yang satu ini. Digedorlah pintu sekeras mungkin , karena berisik sekali aku terpaksa keluar. Didepan pintu sudah berdiri petugas dengan muka galak, kumis tebal dan bawa pentungan seakan – akan siap  menelanku mentah- mentah. Apalagi aku tidak bisa menunjukkan ticket kereta. Dibantai abis – abisan bener aku waktu itu.


Tak terhitung tamparan yang mendarat di pipi kiri dan kananku. Bukan Cuma itu saja, aku diseret  sampai ke gerbong depan. Sehingga semua pasang mata tertuju kearahku waktu itu. Sampai di gerbong depan aku diturunin  di stasiun berikutnya. Tak patah arang  Aku naik lagi kereta yang menuju kea rah barat, begitu seterusnya sampai aku berhasil mendarat kan kedua kakiku dengan mulus di stasiun Purwosari kota solo.  Tak terbayang betapa leganya hati kami bisa tiba di kota solo dengan selamat. Terimakasih ya Alloh .

****

1 komentar: