Kabut turun lebih cepat siang itu.
Bukit Mitis seolah menyembunyikan dirinya dari dunia, membiarkan hanya langkah-langkah kecil para pendaki yang berani menembus putihnya udara pegunungan.
Pukul 11 siang, kami, saya dan Javier(anak pertama saya), memulai perjalanan dari basecamp. Tidak ada langit biru. Tidak ada panorama yang langsung memukau mata. Yang ada hanya udara dingin, aroma tanah basah, dan jalur setapak yang perlahan hilang ditelan kabut tebal.
Namun justru di situlah perjalanan ini menjadi berbeda.
Javier berjalan di depan dengan semangat yang sulit dijelaskan. Sesekali ia menoleh ke belakang memastikan ayahnya masih mengikuti. Sepatu kecilnya menapak akar-akar pohon yang licin, sementara embun menggantung di ujung dedaunan seperti kristal kecil.
Bukit Mitis siang itu terasa hidup—sunyi, tapi hidup.
Di atas Pos 2, hujan turun singkat. Tidak deras, hanya rintik tipis yang jatuh perlahan menimpa jaket dan tanah pegunungan. Kabut makin rapat. Jarak pandang hanya beberapa meter. Mereka berhenti sejenak di bawah pohon, tertawa kecil sambil menikmati dingin yang menggigit tangan.
Bagi sebagian orang, cuaca seperti itu mungkin alasan untuk turun.
Tapi bagi seorang ayah dan anak, kadang perjalanan bukan tentang cuaca yang sempurna—melainkan tentang kenangan yang dibangun bersama.
Perjalanan kembali dilanjutkan.
Langkah demi langkah menembus tanjakan terakhir, hingga tepat pukul 12 siang, mereka tiba di puncak Bukit Mitis. Tidak ada panorama luas yang terlihat jelas hari itu. Kabut menutupi hampir seluruh horizon. Namun justru itulah yang membuat suasana terasa magis.
Dunia seperti berhenti.
Angin berhembus pelan membawa dingin pegunungan. Di tengah putihnya kabut, Djoe dan Javier berdiri berdampingan, mengabadikan momen lewat beberapa foto sederhana—foto yang kelak mungkin akan lebih berharga daripada ribuan gambar dengan langit cerah.
Karena dalam foto itu ada cerita.
Ada perjuangan satu jam mendaki bersama.
Ada tawa kecil saat kehujanan.
Ada tangan ayah yang sesekali memastikan anaknya tetap aman di jalur licin.
Dan ada kebahagiaan sederhana karena berhasil mencapai puncak bersama.
Setelah puas menikmati suasana, kami turun perlahan. Jalur yang tadi terasa berat kini berubah menjadi perjalanan santai penuh obrolan kecil. Kabut mulai sedikit menipis, meski udara tetap dingin dan lembap.
Pukul 1 siang, mereka tiba kembali di bawah.
Pendakian itu mungkin singkat. Hanya dua jam perjalanan pulang-pergi. Namun beberapa perjalanan memang tidak diukur dari panjang waktunya—melainkan dari hangatnya kenangan yang tertinggal setelahnya.
Dan di Bukit Mitis, di tengah kabut tebal dan hujan singkat siang itu, seorang ayah dan anak telah menciptakan cerita yang akan selalu mereka ingat sepanjang hidup.next akan kemana lagi kita melangkah nak, gunung apalagi yang menjadi destinasi selanjutnya..?







.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)



















